Tersangka Alfi Laila SSos (50) yang masuk daftar pencarian orang (DPO) kasus dugaan  pemberian kredit fiktif kepada pegawai negeri sipil (PNS) di Kuala Simpang Aceh dengan kerugian negara Rp 12,8 miliar ditangkap tim intel Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Kejari Kuala Simpang serta Kejari Pematang Siantar.

Kasi Penkum Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) Bobbi Sandri SH MH didampingi Kasubsi Humas Yosgernold Tarigan SH MH, Jumat (12/8) menyebutkan, tersangka ditangkap berdasarkan Surat Kepala Kejari Kuala Simpang Nomor  R-71/N.1.22/Dps.2/11/2015 Tgl 11 November 2015 Perihal Bantuan Penangkapan Tersangka atas nama Alfi Laila.

“Berdasarkan pengamatan dan penggambaran tim intel Kejagung dan Kejari Kuala Simpang diketahui tersangka berada di Pematang Siantar. Selanjutnya Tim Kejagung berkoordinasi dengan Kejari setempat dan akhirnya mengamankan tersangka di Jalan Silimakuta, kota Pematang Siantar, Sumatra Utara pada Hari Kamis 11 Agustus 20116  sekitar  pukul 15.00 WIB,” jelas Bobbi.

Disebutkan Bobbi, tersangka ditangkap atas dugaan tindak pidana korupsi pemberian kredit fiktif kepada PNS SMP Negeri 2 Kejuruan Muda Kabupaten Aceh Tamiang yang sumber dananya berasal  dari Bank Mandiri Mitra Usaha Kuala Simpang dan Bank Aceh pada tahun 2013-2015. Kerugian negara mencapai Rp 12,8 miliar.

Dikatakan, tersangka dibawa ke Kejari Kuala Simpang untuk melaksanakan proses hukum yang tertunda akibat tersangka melakukan pelarian dari petugas Kejaksan Negeri Kuala Simpang Aceh.

Menurut Bobbi, tersangka Alfi Laila tersandung masalah korupsi dana kredit fiktif di dua bank yakni Bank Mandiri dan Bank Aceh. “Adapun kredit fiktif itu sementara ini di Bank Mandiri sebesar Rp 10,6 miliar dan Bank Aceh Rp 3,8 miliar.

Tersangka  sudah dijadikan DPO sejak tahun 2015 atau sekitar 10 bulan yang lalu. Kejari Aceh Tamiang masih akan memeriksa dan melakukan pengembangan apakah ada tersangka atau pelaku lainnya,” terangnya.

Diungkapkan Bobbi, dalam kasus ini tersangka dikenakan pasal 2 dan 3 Undang-Undang (UU) Korupsi.

Tersangka melakukan kredit ke Bank dengan menggunakan SK Pegawai Negeri Sipil (PNS) palsu, modusnya nasabah dibuat seolah-olah sebagai pegawai. Nasabah yang menjadi PNS palsu tersebut sebanyak 70 orang dengan kredit di bank bervariasi diantara berjumlah mencapai Rp 150 juta- Rp 200 juta.

“Dalam Kasus ini ada 5 orang bendahara yang dijadikan tersangka. Dia (Alfi, red) melarikan diri dan ditangkap serta temannya satu orang lagi juga sudah ditangkap di Bali. Sisanya tidak melarikan diri,” jelasnya.