Jaksa Penuntut Umum Tipikor Kejati Sumatra Utara, menuntut mantan Direktur Operasional Bank Sumut, M Yahya dan M Jefri Sitindaon selaku mantan Asisten III Divisi Umum Bank Sumut, dengan tuntutan masing-masing selama 7 tahun penjara, di Pengadilan Tipikor Medan, Senin(06/02)
Selain tuntutan pidana penjara, JPU Tipikor Kejatisu Netty Silaen dihadapan Ketua Majelis Hakim Ahmad Sayuti, dalam tuntutannya menuntut kedua terdakwa membayar denda Rp 200 juta atau digantikan kurungan badan selama 6 bulan.
Sebagaimana disampaikan JPU Tipikor Kejatisu Netty Silaen kepada wartawan usai persidangan, bahwa keduanya terbukti melanggar Pasal 2 UU Tipikor.
Dalam kasus ini, keduanya terbukti bersalah melakukan pembayaran sewa kendaraan operasional Bank Sumut sebanyak 294 unit yang  bersumber dari Rencana Anggaran Kerja (RAK) tahun 2013, hingga negara mengalami kerugian Rp 10,8 Milyar.
Selain itu kedua terdakwa bersama, Pls PPK Bank Sumut Zulkarnain, Pemimpin Divisi Umum Bank Sumt Irwan Pulungan (berkas terpisah yang saat ini akan dilimpahkan ke Pengadilan), tidak hanya melakukan pembayaran sewa kenderaan tanpa kontrak akan tetapi para pelaku juga melakukan penentuan harga berdasarkan ketentuan dari pihak rekanan penyedia jasa sehingga menguntungkan pihak CV Surya Pratama yang dipimpin oleh Haltatib (DPO) dalam kasus tersebut.
Netty juga mengungkapkan bahwa keduanya tidak dikenakan pembayaran uang pengganti, karena tidak menikmati hasil korupsi dikarenakan kucuran aliran dana Bank Sumut langsung ditransfer kepada Haltatif.
Sementara itu dalam persidangan, pihak penasehat hukum terdakwa mengajukan nota pembelaan yang akan dibacakan pada pekan depan.
Untuk diketahui, Tim Intelijen Kejaksaan Tinggi Sumateta Utara (Kejatisu) dengan Tim Penyidik Pidsus Kejatisu menangkap DPO tersangka kasus Pengadaan Sewa Mobil Bank Sumut 2013  Drs. Zulkarnaen (55) di Jalan Setia Budi persis dekat rumah makan soto Medan,  Rabu (01/02) sekira pukul  12.15 WIB.
Tim Intelijen selama lima hari telah memantau kediaman tersangka dpo tersebut dan tepat pada siang hari Tim Intel melihat tersangka keluar rumah dan tim intel yang menyamar sebagai pengedaran sepeda motor langsung melakukan pengejaran dan memepet sepeda motor tersangka yang sedang mengendarai sepeda motor Suzuki Satria F BK 4644 AGB selanjutnya membawa tersangka ke kantor Kejatisu untuk kemudian dimintai keterangan.
Asisten Intelijen Kejatisu, Nanang Sigit Yulianto, SH, MH pada keterangan persnya usia penangkapan mengatakan, bahwa selama dalam pengejaran tersangka hidup berpindah pindah dari kota ke kota dengan menyewa rumah perbulan dengan tujuan untuk mengelabui petugas dari pengejaran.
Dengan demikian, tinggal satu orang yang masih dicari dan menjadi buronan Kejati yaitu Haltatif alias Ali selaku Direktur CV Surya Pratama yang merupakan rekanan penyedia jasa dalam kasus itu.Untuk diketahui bahwa tersangka menghilang dan tidak diketahui keberadaannya, sesuai surat penertiban DPO sejak 26 September dan foto-foto mereka telah disebar luaskan ke seluruh Kejaksaan Negeri di tanah air, institusi pemerintah, bandara, dan pusat perbelanjaan agar dapat diketahui oleh masyarakat.
Terkait dengan dpo yang masih belum tertangkap Asintel, Nanang Sigit menjelaskan bahwa bagi warga yang melihat tersangka itu, segera melaporkan ke kejaksaan untuk diamankan dan diproses secara hukum sesuai dengan kesalahan yang mereka lakukan. (Yos/ika)